Kamis, 24 April 2014

Materi Pengkabelan



PENGERTIAN PENGKABELAN & SETTING JARINGAN KOMPUTER

Pengertian pengkabelan jaringan komputer


Kabel Jaringan adalah kabel yang menghubungkan antara komputer dengan komputer, dari server ke swich dan yang lainya.kabel jaringan juga bisa sebagai perantara pengguna dengan pengguna lainya dalam satu wilayah lokal seperti (warnet, kantor perusahaan dll).
selain itu kabel jaringan juga bisa disebut dengan kabel UTP (Unshielded Twisted Pair) yang sering digunakan untuk LAN dan kabel telpon. Kabel UTP sendiri terdiri dari empat warna konduktor tembaga yang setiap pasangannya berpilih. Kabel UTP terhubung ke perangkat melalui konektor modular yaitu 8 pin yang biasa kita sebut sebagai RJ-45, dan semua protokol LAN dapat beroprasi melalui kabel UTP. Dan kebanyaka perangkat LAN dilengkapi oleh konektor RJ-45.
Di dalam dunia IT kabel UTP juga bisa disebut dengan kabel LAN (Local Area Network)
Dibawah ini adalah contoh kabel UTP atau LAN (Local Area Network) dan RJ-45
Jenis – Jenis Kabel Jaringan Computer
Untuk membuat suatu jaringan di butuhkan kabel sebagai penghubung. Kabel yang digunakan dirancang khusus untuk dapat berfungsi dengan baik. Ada 4 jenis kabel yang digunakan dalam merancang sebuah jaringan computer. Kabel tersebut antara lain kabel Coaxial, kabel Unshielded Twisted Pair (UTP), kabel Shielded Twisted Pair (STP) dan kabel Serat Optik (Fiber Optik).
Berikut ini jenis-jenis kabel jaringan computer :
1. Kabel Coaxial
Kabel Coaxial terdiri atas dua kabel yang diselubungi oleh dua tingkat isolasi. Tingkat isolasi pertama adalah yang paling dekat dengan kawat konduktor tembaga. Tingkat pertama ini dilindungi oleh serabut konduktor yang menutup bagian atasnya yang melindungi dari pengaruh elektromagnetik. Sedangkan bagian inti yang digunakan untuk transfer data adalah bagian tengahnya yang selanjutnya ditutup atau dilindungi dengan plastik sebagai pelindung akhir untuk menghindari dari goresan kabel. Beberapa jenis kabel coaxial lebih besar dari pada yang lain. Makin besar kabel, makin besar kapasitas datanya, lebih jauh jarak jangkauannya dan tidak begitu sensitif terhadap interferensi listrik.
Karakteristik kabel coaxial :
1. Kecepatan dan keluaran 10 – 100 MBps
2. Biaya Rata-rata per node murah
3. Media dan ukuran konektor medium
4. Panjang kabel maksimal yang di izinkan yaitu 500 meter (medium)
Jaringan yang menggunakan kabel coaxial merupakan jaringan dengan biaya rendah, tetapi jangkauannya sangat terbatas dan keandalannya juga sangat terbatas. Kabel coaxial pada umumnya digunakan pada topologi bus dan ring.
2. Kabel Unshielded Twisted Pair (UTP)
Kabel Unshielded Twisted Pair (UTP) merupakan sepasang kabel yang di-twist/dililit satu sama lain dengan tujuan untuk mengurangi interferensi listrik yang dapat terdiri dari dua, empat atau lebih pasangan kabel (umumnya yang dipakai dalam jaringan komputer terdiri dari 4 pasang kabel / 8kabel). UTP dapat mempunyai transfer rate 10 Mbps sampai dengan100 Mbps tetapi mempunyai jarak yang pendek yaitu maximum 100m.
Terdapat 5 kategori kabel UTP :
1. Category (CAT) 1
Digunakan untuk telekomunikasi telepon dan tidak sesuai untuk transmisi data.
2. Category (CAT) 2
Jenis UTP ini dapat melakukan transmisi data sampai kecepatan 4 Mbps.
3. Category (CAT) 3
Digunakan untuk mengakomodasikan transmisi dengan kecepatan sampai dengan 10 Mbps.
4. Category (CAT) 4
Digunakan untuk mengakomodasikan transmisi dengan kecepatan sampai dengan 16 Mbps.
5. Category (CAT) 5
Merupakan jenis yang paling popular dipakai dalam jaringan komputer di dunia pada saat ini. Digunakan untuk mengakomodasikan transmisi dengan kecepatan sampai dengan 100 Mbps.
3. Kabel Shielded Twisted Pair (STP)
Secara fisik kabel shielded sama dengan unshielded tetapi perbedaannya sangat besar dimulai dari kontruksi kabel shielded mempunyai selubung tembaga atau alumunium foil yang khusus dirancang untuk mengurangi gangguan elektrik. Kekurangan kabel STP lainnya adalah tidak samanya standar antar perusahaan yang memproduksi dan lebih mahal dan lebih tebal sehingga lebih susah dalam penanganan fisiknya.
4. Kabel Serat Optik (Fiber Optik)
Jenis kabel fiber optic merupakan kabel jaringan yang jarang digunakan pada instalasi jaringan tingkat menengah ke atas. Pada umumnya, kabel jenis ini digunakan pada instalasi jaringan yang besar dan pada perusahaan multinasional serta digunakan untuk antar lantai atau antar gedung. Kabel fiber optic merupakan media networking medium yang digunakan untuk transmisi-transmisi modulasi. Fiber Optic harganya lebih mahal di bandingkan media lain.
Fiber Optic mempunyai dua mode transmisi, yaitu single mode dan multi mode. Single mode menggunakan sinar laser sebagai media transmisi data sehingga mempunyai jangkauan yang lebih jauh. Sedangkan multimode menggunakan LED sebagai media transmisi.
Karakteristik kabel fiber optik :
1. Beroperasi pada kecepatan tinggi (gigabit per detik)
2. Mampu membawa paket-paket dengan kapasitas besar
3. Biaya rata-rata pernode cukup mahal
4. Media dan ukuran konektor kecil
5. Kebal terhadap interferensi elektromagnetik
6. Jarak transmisi yang lebih jauh ( 2 – 60 kilometer)
Teknologi fiber optic atau serat cahaya memungkinkan menjangkau jarak yang besar dan menyediakan perlindungan total terhadap gangguan elektrik. Kecepatan transfer data dapat mencapai 1000 mbps serta jarak dalam satu segment dapat labih dari 3.5 km. kabel serat cahaya tidak terganggu oleh lingkungan cuaca dan panas.
Konfigurasi Kabel Jaringan Ethernet
Ethernet Card yang di pasang dan di install di PC merupakan jenis koneksi yang paling populer dan paling banyak di gunakan di mana-mana dari tingkat jaringan kecil sampai jaringan besar. Ethernet card sekarang ini biasanya dari setiap komputer telah terintergrasi secara langsung dan siap pakai. Secara singkat dan simple nya terdapat 2 koneksi umum yang digunakan dalam menghubungkan suatu perangkat misalnya antara hub dengan hub, PC dengan PC dan PC dengan Hub, koneksi ini dalam kabel UTP jaringan dikenal dengan teknik pemasangan Straight through dan cross through. Secara singkat dan simple nya untuk menghubungkan 2 komputer atau membuat suatu jaringan komputer kecil atau besar ada 2 hal pokok yang perlu di lakukan:
- Pertama menyiapkan perangkat penghubung koneksi seperti : kabel UTP, Hub atau switch,
Router (bila di perlukan)
- Kedua memberikan alamat TCP/IP di setiap Ethernet Card PC yang akan di hubungkan.
D. Alat dan bahan
Connector RJ45 berikut ini adalah connector RJ45, dalam urutan pemasangan kabel dapat dilihat urutannya sebagai berikut :
Kabel UTP standar ; adalah kabel UTP standar yang digunakan dalam jaringan LAN. Terdiri dari 8 warna yaitu :

Oranye Putih
Oranye
Hijau Putih
Biru
Biru Putih
Hijau
Coklat Putih
Coklat


Crimping tools ; Alat yang mirip tang yang digunakan untuk men-crimp kabel UTP pada RJ45


Menyiapkan Perangkat Penghubung
Untuk menghubungkan perangkat :
- PC to PC
- Hub to Hub
- Switch to Switch
- PC to Router
- Router to Access Point
maka digunakan koneksi kabel straight. Untuk pemasangan kabel straight adalah sbb :

URUTAN WARNA KABEL STRAIGHT

Connector 1 Connector 2
1 Oranye Putih 1 Oranye Putih
2 Oranye 2 Oranye
3 Hijau Putih 3 Hijau Putih
4 Biru 4 Biru
5 Biru Putih 5 Biru Putih
6 Hijau 6 Hijau
7 Coklat Putih 7 Coklat Putih
8 Coklat 8 Coklat



Menghubungkan 2 komputer langsung tanpa menggunakan hub atau switch dapat dengan mudah dilakukan dengan menyiapkan kabel UTP yang di pasang Connector RJ45 dengan susunan kabel cross, yang merupakan lawan dari kabel straight-through.Untuk kabel Cross pemasangannya adalah sbb:

URUTAN WARNA KABEL CROSSOVER

Connector 1 Connector 2
1 Oranye Putih 1 Hijau Putih
2 Oranye 2 Hijau
3 Hijau Putih 3 Oranye putih
4 Biru 4 Biru
5 Biru Putih 5 Biru Putih
6 Hijau 6 Oranye
7 Coklat Putih 7 Coklat Putih
8 Coklat 8 Coklat

E. Protokol TCP/IP
IP address adalah alamat yang diberikan pada jaringan komputer dan peralatan jaringan yang menggunakan protokol TCP/IP. IP address terdiri atas 32 bit angka biner yang dapat dituliskan sebagai empat kelompok angka desimal yang dipisahkan oleh tanda titik seperti 192.168.0.1.

IP address terdiri atas dua bagian yaitu network ID dan host ID, dimana network ID menentukanalamat jaringan komputer, sedangkan host ID menentukan alamat host (komputer, router,switch). Oleh sebab itu IP address memberikan alamat lengkap suatu host beserta alamat jaringan dimana host itu berada.Kelas-kelas IP Address Untuk mempermudah pemakaian, bergantung pada kebutuhan pemakai, IP address dibagi dalam tiga kelas


Pengalokasian IP address pada dasarnya ialah proses memilih network Id dan host ID yang tepat untuk suatu jaringan. Tepat atau tidaknya konfigurasi ini tergantung dari tujuan yang hendak dicapai, yaitu mengalokasikan IP address seefisien mungkin sesuai dengan kebutuhan.

F. Setting Network atau TCP/IP config
Setelah persiapan kabel penghubung selesai maka langkah selanjutnya dalah men-setting Network ID. Baik dalam koneksi PC to PC atau PC to Hub adalah setting IP config pada dasarnya sama karena kita pada dasarnya menghubungkan suatu perangkat dalam berkomunikasi workstation.
Langkah – langkah Setting IP Address
•Klik start – connect to – Show all Connections
•Klik kanan pada Local Area Network – Properties – Internet Protocol (TCP/IP)
•Isi alamat IP address pada kotak tersebut dengan memilih ” Use the following IP address”, untuk mengisi IP address misalnya komputer 1 kita anggap sebagai default gate away (server) dan komputer 2 sebagai client, kita memberi alamat IP public class C yaitu 192.168.0.x …..
Misalnya kita setting dulu IP address di komputer 1 sebagai server


Setelah itu kita setting IP Address di komputer 2 sebagai client ;

Setelah selesai, cek koneksi antara client – server dengan perintah ping IP address




Materi Subnettting



Pengertian Subnetting dan Penghitungannya



Subnetting adalah upaya / proses untuk memecah sebuah network dengan jumlah host yang cukup banyak, menjadi beberapa network dengan jumlah host yang lebih sedikit. Teknik subnetting membuat skala jaringan lebih luas dan tidak dibatas oleh kelas-kelas IP (IP Classes) A, B, dan C yang sudah diatur. Dengan subnetting, anda bisa membuat network dengan batasan host yang lebih realistis sesuai kebutuhan.




Mengapa harus melakukan subnetting? Ada beberapa alasan mengapa kita perlu melakukan subnetting, diantaranya adalah sebagai berikut:
Untuk mengefisienkan alokasi IP Address dalam sebuah jaringan supaya bisa memaksimalkan penggunaan IP Address.
Mengatasi masalah perbedaan hardware dan media fisik yang digunakan daam suatu network, karena Router IP hanya dapat mengintegrasikan berbagai network dengan media fisik yang berbeda jika setiap network memiliki address network yang unik.
Meningkatkan security dan mengurangi terjadinya kongesti akibat terlalu banyaknya host dalam suatu network.

Kali ini saatnya anda mempelajari teknik penghitungan subnetting. Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan dua cara, cara binary yang relatif lambat dan cara khusus yang lebih cepat. Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast.


Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24, apa ini artinya? Artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. Lho kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0). Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.


Pertanyaan berikutnya adalah Subnet Mask berapa saja yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting? Ini terjawab dengan tabel di bawah:





Subnet Mask

Nilai CIDR


255.128.0.0

/9


255.192.0.0

/10


255.224.0.0

/11


255.240.0.0

/12


255.248.0.0

/13


255.252.0.0

/14


255.254.0.0

/15


255.255.0.0

/16


255.255.128.0

/17


255.255.192.0

/18


255.255.224.0

/19




Subnet Mask

Nilai CIDR


255.255.240.0

/20


255.255.248.0

/21


255.255.252.0

/22


255.255.254.0

/23


255.255.255.0

/24


255.255.255.128

/25


255.255.255.192

/26


255.255.255.224

/27


255.255.255.240

/28


255.255.255.248

/29


255.255.255.252

/30







SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS C


Ok, sekarang mari langsung latihan saja. Subnetting seperti apa yang terjadi dengan sebuah NETWORK ADDRESS192.168.1.0/26 ?


Analisa: 192.168.1.0 berarti kelas C dengan Subnet Mask /26 berarti 11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192).

Penghitungan: Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berpusat di 4 hal, jumlah subnet, jumlah host per subnet, blok subnet, alamat host dan broadcast yang valid. Jadi kita selesaikan dengan urutan seperti itu:
Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet
Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 = 62 host
Blok Subnet = 256 – 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
Bagaimana dengan alamat host dan broadcast yang valid? Kita langsung buat tabelnya. Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.




Subnet


192.168.1.0


192.168.1.64


192.168.1.128


192.168.1.192



Host Pertama


192.168.1.1


192.168.1.65


192.168.1.129


192.168.1.193



Host Terakhir


192.168.1.62


192.168.1.126


192.168.1.190


192.168.1.254



Broadcast


192.168.1.63


192.168.1.127


192.168.1.191


192.168.1.255



Kita sudah selesaikan subnetting untuk IP address Class C. Dan kita bisa melanjutkan lagi untuk subnet mask yang lain, dengan konsep dan teknik yang sama. Subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class C adalah seperti di bawah. Silakan anda coba menghitung seperti cara diatas untuk subnetmask lainnya.



Subnet Mask

Nilai CIDR


255.255.255.128

/25


255.255.255.192

/26


255.255.255.224

/27


255.255.255.240

/28


255.255.255.248

/29


255.255.255.252

/30





SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS B

Berikutnya kita akan mencoba melakukan subnetting untuk IP address class B. Pertama, subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class B adalah seperti dibawah. Sengaja saya pisahkan jadi dua, blok sebelah kiri dan kanan karena masing-masing berbeda teknik terutama untuk oktet yang “dimainkan” berdasarkan blok subnetnya. CIDR /17 sampai /24 caranya sama persis dengan subnetting Class C, hanya blok subnetnya kita masukkan langsung ke oktet ketiga, bukan seperti Class C yang “dimainkan” di oktet keempat. Sedangkan CIDR /25 sampai /30 (kelipatan) blok subnet kita “mainkan” di oktet keempat, tapi setelah selesai oktet ketiga berjalan maju (coeunter) dari 0, 1, 2, 3, dst.





Subnet Mask

Nilai CIDR


255.255.128.0

/17


255.255.192.0

/18


255.255.224.0

/19


255.255.240.0

/20


255.255.248.0

/21


255.255.252.0

/22


255.255.254.0

/23


255.255.255.0

/24




Subnet Mask

Nilai CIDR


255.255.255.128

/25


255.255.255.192

/26


255.255.255.224

/27


255.255.255.240

/28


255.255.255.248

/29


255.255.255.252

/30



Ok, kita coba dua soal untuk kedua teknik subnetting untuk Class B. Kita mulai dari yang menggunakan subnetmask dengan CIDR /17 sampai /24. Contoh network address 172.16.0.0/18.

Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /18 berarti 11111111.11111111.11000000.00000000 (255.255.192.0).

Penghitungan:
Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 2 oktet terakhir. Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet
Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada 2 oktet terakhir. Jadi jumlah host per subnet adalah 214 – 2 = 16.382 host
Blok Subnet = 256 – 192 = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.
Alamat host dan broadcast yang valid?




Subnet


172.16.0.0


172.16.64.0


172.16.128.0


172.16.192.0



Host Pertama


172.16.0.1


172.16.64.1


172.16.128.1


172.16.192.1



Host Terakhir


172.16.63.254


172.16.127.254


172.16.191.254


172.16.255.254



Broadcast


172.16.63.255


172.16.127.255


172.16.191.255


172.16..255.255


Berikutnya kita coba satu lagi untuk Class B khususnya untuk yang menggunakan subnetmask CIDR /25 sampai /30. Contoh network address 172.16.0.0/25.

Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /25 berarti 11111111.11111111.11111111.10000000 (255.255.255.128).

Penghitungan:
Jumlah Subnet = 29 = 512 subnet
Jumlah Host per Subnet = 27 – 2 = 126 host
Blok Subnet = 256 – 128 = 128. Jadi lengkapnya adalah (0, 128)
Alamat host dan broadcast yang valid?




Subnet

172.16.0.0

172.16.0.128

172.16.1.0



172.16.255.128


Host Pertama

172.16.0.1

172.16.0.129

172.16.1.1



172.16.255.129


Host Terakhir

172.16.0.126

172.16.0.254

172.16.1.126



172.16.255.254


Broadcast

172.16.0.127

172.16.0.255

172.16.1.127



172.16.255.255





SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS A

Kalau sudah mantab dan paham, kita lanjut ke Class A. Konsepnya semua sama saja. Perbedaannya adalah di OKTETmana kita mainkan blok subnet. Kalau Class C di oktet ke 4 (terakhir), kelas B di Oktet 3 dan 4 (2 oktet terakhir), kalau Class A di oktet 2, 3 dan 4 (3 oktet terakhir). Kemudian subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class A adalah semua subnet mask dari CIDR /8 sampai /30.

Kita coba latihan untuk network address 10.0.0.0/16.

Analisa: 10.0.0.0 berarti kelas A, dengan Subnet Mask /16 berarti 11111111.11111111.00000000.00000000 (255.255.0.0).

Penghitungan:
Jumlah Subnet = 28 = 256 subnet
Jumlah Host per Subnet = 216 – 2 = 65534 host
Blok Subnet = 256 – 255 = 1. Jadi subnet lengkapnya: 0,1,2,3,4, etc.
Alamat host dan broadcast yang valid?




Subnet

10.0.0.0

10.1.0.0



10.254.0.0

10.255.0.0


Host Pertama

10.0.0.1

10.1.0.1



10.254.0.1

10.255.0.1


Host Terakhir

10.0.255.254

10.1.255.254



10.254.255.254

10.255.255.254


Broadcast

10.0.255.255

10.1.255.255



10.254.255.255

10.255.255.255



Mudah-mudahan sudah setelah anda membaca paragraf terakhir ini, anda sudah memahami penghitungan subnetting dengan baik. Kalaupun belum paham juga, anda ulangi terus artikel ini pelan-pelan dari atas.


Catatan: Semua penghitungan subnet diatas berasumsikan bahwa IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) dihitung secara default. Buku versi terbaru Todd Lamle dan juga CCNA setelah 2005 sudah mengakomodasi masalah IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) ini. CCNA pre-2005 tidak memasukkannya secara default (meskipun di kenyataan kita bisa mengaktifkannya dengan command ip subnet-zeroes), sehingga mungkin dalam beberapa buku tentang CCNA serta soal-soal test CNAP, anda masih menemukan rumus penghitungan Jumlah Subnet = 2x – 2

Rabu, 23 April 2014

Materi IP Address


Pengertian IP Address dan Configurasinya


Pembagian Kelas IP Address
Jumlah IP address yang tersedia secara teoritis adalah 255x255x255x255 atau sekitar 4 milyar lebih yang harus dibagikan ke seluruh pengguna jaringan internet di seluruh dunia. Pembagian kelas-kelas ini ditujukan untuk mempermudah alokasi IP Address, baik untuk host/jaringan tertentu atau untuk keperluan tertentu.
IP Address dapat dipisahkan menjadi 2 bagian, yakni bagian network (net ID) dan bagian host (host ID). Net ID berperan dalam identifikasi suatu network dari network yang lain, sedangkan host ID berperan untuk identifikasi host dalam suatu network. Jadi, seluruh host yang tersambung dalam jaringan yang sama memiliki net ID yang sama. Sebagian dari bit-bit bagian awal dari IP Address merupakan network bit/network number, sedangkan sisanya untuk host. Garis pemisah antara bagian network dan host tidak tetap, bergantung kepada kelas network. IP address dibagi ke dalam lima kelas, yaitu kelas A, kelas B, kelas C, kelas D dan kelas E.
Perbedaan tiap kelas adalah pada ukuran dan jumlahnya. Contohnya IP kelas A dipakai oleh sedikit jaringan namun jumlah host yang dapat ditampung oleh tiap jaringan sangat besar. Kelas D dan E tidak digunakan secara umum, kelas D digunakan bagi jaringan multicast dan kelas E untuk keprluan eksperimental. Perangkat lunak Internet Protocol menentukan pembagian jenis kelas ini dengan menguji beberapa bit pertama dari IP Address. Penentuan kelas ini dilakukan dengan cara berikut :
Bit pertama IP address kelas A adalah 0, dengan panjang net ID 8 bit dan panjang host ID 24 bit. Jadi byte pertama IP address kelas A mempunyai range dari 0-127. Jadi pada kelas A terdapat 127 network dengan tiap network dapat menampung sekitar 16 juta host (255x255x255). IP address kelas A diberikan untuk jaringan dengan jumlah host yang sangat besar, IP kelas ini dapat dilukiskan pada gambar berikut ini:
IP address kelas A
Dua bit IP address kelas B selalu diset 10 sehingga byte pertamanya selalu bernilai antara 128-191. Network ID adalah 16 bit pertama dan 16 bit sisanya adalah host ID sehingga kalau ada komputer mempunyai IP address 167.205.26.161, network ID = 167.205 dan host ID = 26.161. Pada. IP address kelas B ini mempunyai range IP dari 128.0.xxx.xxx sampai 191.155.xxx.xxx, yakni berjumlah 65.255 network dengan jumlah host tiap network 255 x 255 host atau sekitar 65 ribu host.
IP address kelas B
IP address kelas C mulanya digunakan untuk jaringan berukuran kecil seperti LAN. Tiga bit pertama IP address kelas C selalu diset 111. Network ID terdiri dari 24 bit dan host ID 8 bit sisanya sehingga dapat terbentuk sekitar 2 juta network dengan masing-masing network memiliki 256 host.
IP address kelas C
IP address kelas C digunakan untuk keperluan multicasting. 4 bit pertama IP address kelas C selalu diset 1110 sehingga byte pertamanya berkisar antara 224-247, sedangkan bit-bit berikutnya diatur sesuai keperluan multicast group yang menggunakan IP address ini. Dalam multicasting tidak dikenal istilah network ID dan host ID.
IP address kelas E tidak diperuntukkan untuk keperluan umum. 4 bit pertama IP address kelas ini diset 1111 sehingga byte pertamanya berkisar antara 248-255.
Sebagai tambahan dikenal juga istilah Network Prefix, yang digunakan untuk IP address yang menunjuk bagian jaringan.Penulisan network prefix adalah dengan tanda slash “/” yang diikuti angka yang menunjukkan panjang network prefix ini dalam bit. Misal untuk menunjuk satu network kelas B 167.205.xxx.xxx digunakan penulisan 167.205/16. Angka 16 ini merupakan panjang bit untuk network prefix kelas B.
Mengkonfigurasi TCP/IP
Implementasi TCP/IP pada Windows98 meliputi protokol standar TCP/IP, kompatible dengan
TCP/IP berbasis jaringan. Protokol standar TCP/IP termasuk:
1. Internet Protocol,
2. Transmission Control Protocol (TCP),
3. Internet Control Message Protocol (ICMP),
4. Address Resolusion Protocol (ARP),
5. User Datagram Protocol (UDP).
TCP/IP harus dikonfigurasikan sebelum dahulu agar bisa “berkomunikasi” di dalam jaringan
komputer. Setiap kartu jaringan komputer yang telah diinstall memerlukan IP address dan subnet
mask. IP address harus unik (berbeda dengan komputer lain), subnet mask digunakan untuk
membedakan network ID dari host ID.
Memberikan IP Address
IP address dan subnet mask dapat diberikan secara otomatis menggunakan Dynamic Host
Configuration Protocol (DHCP) atau disi secara manual.
Gambar 2.4. IP address dalam TCP/IP properties
Prosedur yang dilakukan untuk mengisikan IP address:
1. Buka Control Panel dan double-klik icon Network.
2. Di dalam tab Configuration, klik TCP/IP yang ada dalam daftar untuk kartu jaringan yang telah
diinstall.
3. Klik Properties.
4. Di dalam tab IP Address, terdapat 2 pilihan:
* Obtain an IP address automatically
IP address akan diperoleh melalui fasilitas DHCP. DHCP berfungsi untuk memberikan IP address
secara otomatis pada komputer yang menggunakan protokol TCP/IP. DHCP bekerja dengan relasi
client-server, dimana DHCP server menyediakan suatu kelompok IP address yang dapat diberikan
pada DHCP client. Dalam memberikan IP address ini, DHCP hanya meminjamkan IP address
tersebut. Jadi pemberian IP address ini berlangsung secara dinamis.
* Specify an IP address
IP address dan subnet mask diisi secara manual.
5. Klik OK.
6. Jika diperlukan masuk kembali ke dalam kotak dialog TCP/IP Properties, klik tab Gateway,
masukkan nomor alamat server.
7. Klik OK.
8. Jika diperlukan untuk mengaktifkan Windows Internet Naming Service (WINS) server, kembali
ke dalam kotak dialog TCP/IP Properties, klik tab WINS Configuration, dan klik Enable
WINS Resolution serta masukan nomor alamat server.
9. Jika diperlukan untuk mengaktifkan domain name system (DNS), kembali ke dalam kotak
dialog TCP/IP Properties, klik tab DNS Configuration, klik Enable DNS, masukkan nomor
alamat server.
10. Klik OK.

Materi Komponen Jaringan


Komponen Jaringan dan fungsinya

1. Repeater 

     Repeater adalah perangkat elektronik yang menerima sinyal dan mentransmisikannya kembali pada tingkat dan/atau kekuatan yang lebih tinggi, atau ke sisi lain dari suatu penghalang, sehingga sinyal dapat melewati jarak yang lebih jauh.
Istilah “repeater” berasal dari bidang telegrafi dan dirujuk ke perangkat elektromekanik yang digunakan untuk meregenerasi sinyal telegraf. Penggunaan istilah ini telah berlanjut di telepon dan komunikasi data.
Dalam telekomunikasi, repeater istilah memiliki arti standar berikut: 1. Sebuah perangkat analog yang menguatkan sinyal input apapun sifatnya (analog atau digital).
2. Sebuah perangkat digital yang menguatkan, membentuk ulang, retimes, atau melakukan kombinasi dari salah satu fungsi pada sinyal input digital untuk pengiriman ulang.
Karena repeater bekerja dengan sinyal fisik yang sebenarnya, dan tidak menginterpretasikan data yang dikirim, maka mereka beroperasi pada physical layer, lapisan pertama dari model OSI.
Digipeater
Sebuah digipeater (digital repeater), biasanya digunakan khusus dalam radio amatir. Store dan digipeaters maju umumnya menerima transmisi radio paket dan kemudian memancarkan kembali pada frekuensi yang sama, tidak seperti repeater yang menerima pada satu dan transmisi pada frekuensi lain.
Repeater sering digunakan dalam kabel komunikasi trans-benua dan kabel komunikasi bawah laut, karena redaman (rugi sinyal) dalam jarak seperti itu akan diterima tanpa mereka. Repeater digunakan di kedua kabel tembaga-kawat yang membawa sinyal-sinyal listrik, dan serat optik yang membawa cahaya.
Ketika memberikan link telekomunikasi point-to-point dengan menggunakan radio di luar saling berhadapan, satu menggunakan repeater di relay radio gelombang mikro. Sebuah reflektor, sering di puncak gunung, yang relay sinyal seperti di sekitar hambatan, disebut sebuah repeater pasif atau Pasif Pembelokan Radio Link. Sebuah repeater microwave dalam komunikasi satelit disebut sebuah transponder.
Dalam komunikasi optik dengan repeater istilah digunakan untuk menggambarkan sebuah peralatan yang menerima sinyal optik, mengubah sinyal itu menjadi salah satu listrik, melahirkan kembali, dan kemudian mentransmisikan kembali sinyal optik. Sejak alat tersebut mengubah sinyal optik menjadi salah satu listrik, dan kemudian kembali ke sinyal optik, mereka sering dikenal sebagai Optical-Listrik-Optik (OEO) repeater.
Sebelum penemuan penguat elektronik, mekanik ditambah mikrofon karbon digunakan sebagai penguat dalam repeater telepon. Penemuan tabung Audion dibuat praktis telepon antar benua. Pada 1930 repeater tabung vakum menggunakan kumparan hibrida menjadi biasa, yang memungkinkan penggunaan kawat tipis. Pada tahun 1950-an perangkat memperoleh impedansi negatif yang lebih populer, dan versi transistorized disebut repeater E6 adalah tipe utama akhir yang digunakan dalam Sistem Bell sebelum rendahnya biaya transmisi digital membuat semua repeater voiceband usang. Repeater frogging Frekuensi yang biasa di frekuensi-division multiplexing sistem dari pertengahan hingga akhir abad 20.

2. Hub

Sebuah Ethernet Hub, Active Hub, Network Hub, Repeater Hub atau Hub adalah perangkat untuk menghubungkan beberapa twisted pair atau serat optik Ethernet perangkat bersama dan membuat mereka bertindak sebagai segmen jaringan tunggal. Hub bekerja pada lapisan fisik (lapisan 1) dari model OSI. Perangkat ini merupakan bentuk multiport repeater. Repeater hub juga berpartisipasi dalam deteksi tabrakan, forwarding sinyal selai untuk semua port jika mendeteksi tabrakan.
Hub juga sering datang dengan BNC dan / atau konektor AUI untuk memungkinkan sambungan ke 10BASE2 atau 10BASE5 warisan atau segmen jaringan. Ketersediaan jaringan switch harga rendah umumnya telah diberikan hub usang tapi mereka masih terlihat di instalasi lama dan aplikasi yang lebih khusus.
Technical Information
Sebuah hub adalah perangkat jaringan siaran yang cukup canggih. Hub tidak mengelola semua lalu lintas yang datang melalui mereka, dan setiap paket memasukkan port disiarkan keluar di semua port lain. Karena setiap paket sedang dikirim melalui semua port lain, tabrakan paket-hasil yang sangat menghambat kelancaran arus lalu lintas.
Kebutuhan untuk host untuk dapat mendeteksi tabrakan membatasi jumlah hub dan ukuran total dari jaringan yang dibangun menggunakan hub (jaringan switch menggunakan built tidak memiliki keterbatasan ini). Selama 10 Mbit / jaringan s, sampai 5 segmen (4 hub) yang diperbolehkan antara dua stasiun akhir. Untuk 100 Mbit / s jaringan, membatasi dikurangi menjadi 3 bagian (2 hub) antara dua stasiun akhir, dan bahkan yang hanya diperbolehkan jika hub adalah varietas delay rendah. Beberapa hub memiliki khusus (dan umumnya spesifik produsen) stack port yang memungkinkan mereka untuk digabungkan dengan cara yang memungkinkan hub lebih dari chaining sederhana melalui kabel Ethernet, tetapi meskipun demikian, jaringan Fast Ethernet besar kemungkinan akan memerlukan switch untuk menghindari batas chaining dari hub.
Kebanyakan hub mendeteksi masalah-masalah khas, seperti tabrakan berlebihan dan mengobrol di pelabuhan individu, dan partisi pelabuhan, memutuskan hubungan dari media bersama. Jadi, hub berbasis Ethernet umumnya lebih kuat dari kabel Ethernet berbasis koaksial (seperti 10BASE2, thinnet), di mana perangkat nakal dapat mempengaruhi seluruh domain yang tabrakan. Bahkan jika tidak dipartisi secara otomatis, hub membuat masalah lebih mudah karena lampu status dapat menunjukkan sumber masalah yang mungkin atau, sebagai pilihan terakhir, perangkat dapat terputus dari satu hub pada waktu yang jauh lebih mudah daripada kabel koaksial. Mereka juga menghapus kebutuhan untuk memecahkan masalah kesalahan pada kabel besar dengan beberapa PDAM.
Hub diklasifikasikan sebagai perangkat Layer 1 (Physical Layer) dalam model OSI. Pada lapisan fisik, hub sedikit dukungan di jalan jaringan canggih. Hub tidak membaca data yang lewat melalui mereka dan tidak menyadari sumber atau tujuan. Pada dasarnya, sebuah hub hanya menerima paket yang datang, meregenerasi sinyal listrik, dan siaran paket ini ke semua perangkat lain di jaringan.
Dual-speed Hub
Pada hari-hari awal Fast Ethernet, Ethernet switch adalah perangkat yang relatif mahal. Hub menderita dari masalah yang jika ada perangkat 10Base-T terhubung maka seluruh jaringan yang diperlukan untuk berjalan pada 10 Mbit / s. Oleh karena itu merupakan kompromi antara hub dan switch dikembangkan, yang dikenal sebagai dual-speed hub. Perangkat ini terdiri dari dua-port switch internal, membagi 10Base-T (10 Mbit / s) dan 100Base-T (100 Mbit / s) segmen. Perangkat biasanya akan terdiri dari lebih dari dua port fisik. Ketika perangkat jaringan menjadi aktif pada salah satu port fisik, perangkat akan menempel ke salah satu segmen 10Base-T atau segmen 100Base-T, yang sesuai. Ini untuk mencegah kebutuhan untuk migrasi semua-atau-apa-apa dari 10Base-T untuk jaringan 100Base-T. Alat ini hub karena lalu lintas antara perangkat yang terhubung dengan kecepatan yang sama tidak diaktifkan.
Uses
Secara historis, alasan utama untuk pembelian hub bukan switch adalah harga mereka. Ini umumnya telah dieliminasi oleh penurunan harga switch, tapi hub masih bisa berguna dalam keadaan khusus:
* Untuk memasukkan penganalisis protokol ke dalam koneksi jaringan, hub adalah sebuah alternatif untuk sebuah keran jaringan atau port mirroring.
  • Beberapa cluster komputer setiap komputer memerlukan anggota untuk menerima semua lalu lintas akan cluster. [Rujukan?] Sebuah hub akan melakukan ini secara alami; menggunakan saklar memerlukan konfigurasi khusus.
  • Ketika saklar bisa diakses bagi pengguna akhir untuk membuat sambungan, misalnya, di ruang rapat, seorang pengguna tidak berpengalaman atau ceroboh (atau penyabot) dapat menurunkan jaringan dengan menghubungkan dua pelabuhan bersama-sama, menyebabkan lingkaran. Hal ini dapat dicegah dengan menggunakan hub, di mana loop akan istirahat pengguna yang lain pada hub, tetapi bukan sisa jaringan. (Hal ini juga dapat dicegah dengan membeli saklar yang dapat mendeteksi dan menangani loop, misalnya dengan menerapkan Spanning Tree Protocol.)
  • Hub A dengan port 10BASE2 dapat digunakan untuk menghubungkan perangkat yang hanya mendukung 10BASE2 ke jaringan modern. Hal yang sama berlaku untuk menghubungkan segmen jaringan di thicknet tua menggunakan port AUI pada hub (perangkat individu yang ditujukan untuk thicknet bisa dihubungkan dengan Ethernet modern dengan menggunakan transceiver AUI-10Base-T).
3. Network Bridge 

       Network Bridge adalah sebuah komponen jaringan yang digunakan untuk memperluas jaringan atau membuat sebuah segmen jaringan. Bridge jaringan beroperasi di dalam lapisan data-link pada model OSI. Bridge juga dapat digunakan untuk menggabungkan dua buah media jaringan yang berbeda, seperti halnya antara media kabel Unshielded Twisted-Pair (UTP) dengan kabel serat optik atau dua buah arsitektur jaringan yang berbeda, seperti halnya antara Token Ring dan Ethernet. Bridge akan membuat sinyal yang ditransmisikan oleh pengirim tapi tidak melakukan konversi terhadap protokol, sehingga agar dua segmen jaringan yang dikoneksikan ke jembatan tersebut harus terdapat protokol jaringan yang sama (seperti halnya TCP/IP). Bridge jaringan juga kadang-kadang mendukung protokol Simple Network Management Protocol (SNMP), dan beberapa di antaranya memiliki fitur diagnosis lainnya. 
Terdapat tiga jenis jembatan jaringan yang umum dijumpai:
  • Jembatan Lokal: sebuah Jembatan yang dapat menghubungkan segmen-segmen jaringan lokal.
  • Jembatan Putar: dapat digunakan untuk membuat sebuah sambungan (link) antara LAN untuk membuat sebuah Wide Area Network.
  • Jembatan Nirkabel: sebuah bridge yang dapat menggabungkan jaringan LAN berkabel dan jaringan LAN nirkabel.
Bridging adalah teknik forwarding digunakan dalam jaringan komputer packet-switched. Tidak seperti routing, bridging tidak membuat asumsi tentang di mana dalam suatu jaringan alamat tertentu berada. Sebaliknya, itu tergantung pada pemeriksaan banjir dan alamat sumber dalam header paket yang diterima untuk menemukan perangkat yang tidak dikenal. Setelah perangkat telah ditemukan, lokasi dicatat dalam sebuah tabel di mana alamat MAC disimpan sehingga menghalangi kebutuhan untuk menyiarkan lebih lanjut. Kegunaan bridging dibatasi oleh ketergantungannya pada banjir, dan dengan demikian hanya digunakan dalam jaringan area lokal.
Bridging umumnya mengacu pada Transparan menjembatani atau Belajar operasi jembatan yang dominan di Ethernet. Bentuk lain dari bridging, rute Sumber bridging, dikembangkan untuk jaringan token ring.
Sebuah bridge yang menghubungkan jaringan beberapa segmen jaringan pada layer data link (Layer 2) dari model OSI. Pada jaringan Ethernet, bridge istilah resmi berarti alat yang berperilaku sesuai dengan standar IEEE 802.1D. Sebuah bridge dan saklar yang sangat mirip; saklar menjadi bridge dengan banyak port. Switch atau Layer 2 switch sering digunakan bergantian dengan jembatan.
Bridge mirip dengan repeater atau hub jaringan, perangkat yang menghubungkan segmen jaringan pada layer fisik (layer 1) dari model OSI, namun, dengan bridging, lalu lintas dari satu jaringan dikelola bukan sekedar rebroadcast ke segmen jaringan yang berdekatan. Bridge lebih kompleks dibandingkan hub atau repeater. Bridge dapat menganalisis data paket yang datang untuk menentukan apakah jembatan tersebut mampu mengirim paket diberikan ke segmen jaringan.
Transparent Bridging Operation
Bridge menggunakan database forwarding untuk mengirim frame di segmen jaringan. Database forwarding awalnya kosong dan entri dalam database dibangun sebagai jembatan menerima frame. Jika sebuah entri alamat tidak ditemukan dalam database forwarding, frame banjir untuk semua port lain bridge, forwarding frame untuk semua segmen kecuali alamat sumber. Dengan cara ini bingkai siaran, jaringan tujuan akan menanggapi dan entri forwarding database akan dibuat.
Sebagai contoh, perhatikan tiga host, A, B dan C dan bridge. Bridge ini memiliki tiga port. Terpasang ke bridge port 1, port B terhubung bridge 2, C terhubung ke bridge 3 port. A mengirimkan frame ditujukan kepada B untuk bridge. Bridge memeriksa alamat sumber dari frame dan menciptakan alamat dan nomor port masuk untuk A dalam tabel forwarding nya. Bridge memeriksa alamat tujuan dari frame dan tidak menemukannya dalam tabel forwarding nya sehingga banjir ke semua port lain: 2 dan 3. Bingkai diterima oleh tuan B dan C. Host C memeriksa alamat tujuan dan mengabaikan bingkai. Host B mengakui pertandingan alamat tujuan dan menghasilkan suatu respon ke A. Pada jalan kembali, bridge menambahkan alamat dan port entri nomor untuk B ke tabel forwarding nya. Bridge sudah memiliki A alamat dalam tabel forwarding sehingga ke depan hanya respon ke port 1. Host C atau host lain di 3 port tidak dibebani dengan jawaban. Komunikasi dua arah sekarang mungkin antara A dan B tanpa banjir lebih lanjut.
Perhatikan bahwa baik sumber dan alamat tujuan yang digunakan dalam algoritma ini. Sumber alamat dicatat dalam entri di dalam tabel, sedangkan alamat tujuan dicari dalam tabel dan cocok untuk segmen yang tepat untuk mengirim bingkai.
Teknologi ini awalnya dikembangkan oleh Digital Equipment Corp di tahun 1980-an.
Penyaringan database
Untuk menerjemahkan antara dua segmen, bridge kerangka membaca tujuan alamat MAC dan memutuskan untuk baik maju atau filter. Jika bridge menentukan bahwa tujuan adalah node pada segmen lain pada jaringan, ke depan itu (mentransmisikan kembali) paket ke segmen itu. Jika alamat tujuan milik segmen yang sama sebagai sumber address, bridge filter (membuang) frame. Sebagai node mengirimkan data melalui bridge, bridge ini membuat database penyaringan (juga dikenal sebagai tabel forwarding) alamat MAC dikenal dan lokasi mereka pada jaringan. Bridge ini menggunakan database penyaringan untuk menentukan apakah sebuah paket harus diteruskan atau disaring.
Keuntungan dari jembatan jaringan :
* Self-configuration
* Bridge yang sederhana bernilai murah
* Mengisolasi terjadinya domain collision
* Mengurangi terjadinya domain collision dengan microsegmentation di jaringan non-switched
  • Transparan untuk protokol di atas lapisan MAC
  • Memungkinkan pengenalan manajemen / kinerja informasi dan kontrol akses
  • LAN saling terpisah, dan kendala fisik seperti jumlah stasiun, repeater dan panjang segmen tidak berlaku
  • Membantu mengurangi penggunaan bandwidth
Kekurangan jembatan jaringan :
  • Tidak dapat membatasi cakupan siaran domain broadcast [tidak dapat dikendalikan]
  • Tidak dapat mengukur skala ke jaringan yang sangat besar
  • Buffer dan proses selalu mengalami penundaan
  • Bridge lebih mahal daripada repeater atau hub
  • Sebuah topologi jaringan yang kompleks dapat menimbulkan masalah bagi transparent bridge. Sebagai contoh, beberapa jalur bridge antara transparan dan LAN dapat mengakibatkan bridge loops. Spanning tree protocol membantu mengurangi masalah dengan topologi yang kompleks.
Bridging versus routing
Bridging dan routing keduanya melakukan proses kontrol data, tetapi bekerja melalui metode yang berbeda. Bridging berlangsung pada model OSI Layer 2 (lapisan data-link), sedangkan routing terjadi pada model OSI Layer 3 (lapisan jaringan). Perbedaan ini berarti bahwa bridge mengarahkan frame sesuai dengan alamat MAC perangkat keras ditugaskan, sementara router membuat keputusan yang sesuai dengan sewenang-wenang Alamat IP yang ditetapkan. Sebagai akibatnya, bridge tidak peduli dan tidak mampu membedakan jaringan sementara router bisa.
Ketika merancang sebuah jaringan, kita dapat memilih untuk menempatkan beberapa segmen menjadi satu jaringan bridge atau membagi ke dalam jaringan yang berbeda saling berhubungan dengan router. Jika sebuah host yang secara fisik dipindahkan dari satu area jaringan lain dalam jaringan dialihkan, ia harus mendapatkan alamat IP yang baru, jika sistem ini bergerak dalam jaringan bridge, tidak perlu mengkonfigurasi ulang apa pun.

4. Switch



      Switch jaringan (atau switch untuk singkatnya) adalah sebuah alat jaringan yang melakukan bridging transparan (penghubung segementasi banyak jaringan dengan forwarding berdasarkan alamat MAC).
Switch jaringan dapat digunakan sebagai penghubung komputer atau router pada satu area yang terbatas, switch juga bekerja pada lapisan data link, cara kerja switch hampir sama seperti bridge, tetapi switch memiliki sejumlah port sehingga sering dinamakan multi-port bridge.
Cara kerja switch
Switch dapat dikatakan sebagai multi-port bridge karena mempunyai collision domain dan broadcast domain tersendiri, dapat mengatur lalu lintas paket yang melalui switch jaringan. Cara menghubungkan komputer ke switch sangat mirip dengan cara menghubungkan komputer atau router ke hub. Switch dapat digunakan langsung untuk menggantikan hub yang sudah terpasang pada jaringan.
Type Switch
Ada beberapa jenis Switch yang beredar di pasaran, yang bekerja di Layer 2 dan Layer 3 pada lapisan OSI.
* ATM Switch
* ISDN Switch : ISDN (Integrated Services Digital Network) Switch atau yang dikenal sebagai istilah Frame relay switch over ISDN yang biasanya terdapat pada Service Provider bekerja seperti halnya switch, tapi memiliki perbedaan yaitu interface yang di gunakan berupa ISDN card atau ISDN router.
* DSLAM Switch
* Ethernet Switch
Port uplink
Port uplink adalah sebuah port dalam sebuah hub atau [[switch jaringan]|switch]] yang dapat digunakan untuk menghubungkan hub/switch tersebut dengan hub lainnya di dalam sebuah jaringan berbasis teknologi Ethernet. Dengan menggunakan uplink port, hub-hub pun dapat disusun secara bertumpuk untuk membentuk jaringan yang lebih besar dengan menggunakan kabel Unshielded Twisted Pair yang murah. Jika memang hub yang digunakan tidak memiliki port uplink, maka kita dapat menggunakan kabel UTP yang disusun secara crossover.

5. Router

        Router adalah sebuah alat jaringan komputer yang mengirimkan paket data melalui sebuah jaringan atau Internet menuju tujuannya, melalui sebuah proses yang dikenal sebagai routing. Proses routing terjadi pada lapisan 3 (Lapisan jaringan seperti Internet Protocol) dari stack protokol tujuh-lapis OSI.
Fungsi router
Router berfungsi sebagai penghubung antar dua atau lebih jaringan untuk meneruskan data dari satu jaringan ke jaringan lainnya. Router berbeda dengan switch. Switch merupakan penghubung beberapa alat untuk membentuk suatu Local Area Network (LAN).Sebagai ilustrasi perbedaan fungsi dari router dan switch merupakan suatu jalanan, dan router merupakan penghubung antar jalan. Masing-masing rumah berada pada jalan yang memiliki alamat dalam suatu urutan tertentu. Dengan cara yang sama, switch menghubungkan berbagai macam alat, dimana masing-masing alat memiliki alamat IP sendiri pada sebuah LAN.
Router sangat banyak digunakan dalam jaringan berbasis teknologi protokol TCP/IP, dan router jenis itu disebut juga dengan IP Router. Selain IP Router, ada lagi AppleTalk Router, dan masih ada beberapa jenis router lainnya. Internet merupakan contoh utama dari sebuah jaringan yang memiliki banyak router IP. Router dapat digunakan untuk menghubungkan banyak jaringan kecil ke sebuah jaringan yang lebih besar, yang disebut dengan internetwork, atau untuk membagi sebuah jaringan besar ke dalam beberapa subnetwork untuk meningkatkan kinerja dan juga mempermudah manajemennya. Router juga kadang digunakan untuk mengoneksikan dua buah jaringan yang menggunakan media yang berbeda (seperti halnya router wireless yang pada umumnya selain ia dapat menghubungkan komputer dengan menggunakan radio, ia juga mendukung penghubungan komputer dengan kabel UTP), atau berbeda arsitektur jaringan, seperti halnya dari Ethernet ke Token Ring.
Router juga dapat digunakan untuk menghubungkan LAN ke sebuah layanan telekomunikasi seperti halnya telekomunikasi leased line atau Digital Subscriber Line (DSL). Router yang digunakan untuk menghubungkan LAN ke sebuah koneksi leased line seperti T1, atau T3, sering disebut sebagai access server. Sementara itu, router yang digunakan untuk menghubungkan jaringan lokal ke sebuah koneksi DSL disebut juga dengan DSL router. Router-router jenis tersebut umumnya memiliki fungsi firewall untuk melakukan penapisan paket berdasarkan alamat sumber dan alamat tujuan paket tersebut, meski beberapa router tidak memilikinya. Router yang memiliki fitur penapisan paket disebut juga dengan packet-filtering router. Router umumnya memblokir lalu lintas data yang dipancarkan secara broadcast sehingga dapat mencegah adanya broadcast storm yang mampu memperlambat kinerja jaringan.
Jenis-jenis router
Secara umum, router dibagi menjadi dua buah jenis, yakni:
  • static router (router statis): adalah sebuah router yang memiliki tabel routing statis yang di setting secara manual oleh para administrator jaringan.
  • dynamic router (router dinamis): adalah sebuah router yang memiliki dab membuat tabel routing dinamis, dengan mendengarkan lalu lintas jaringan dan juga dengan saling berhubungan dengan router lainnya.


Materi Jaringan Komputer

Pengertian ,Manfaat Dan Jenis-Jenis Jaringan Komputer

Pengertianmanfaat dan jenis-jenis jaringan komputer ~ Jaringan komputer merupakan suatu sistem yang terdiri komputer dan perangkat lainnya yang dirancang untuk dapat bekerja bersama-sama dalam berbagai manfaat dan tujuan antara lain untuk berkomunikasi, akses informasi, menerima maupun memberikan layanan. Bagian yang menerima layanan disebut Client dan bagian yang memberikan layanan disebut Server. Sistem ini dikenal sebagai sistem client-server yang sudah digunakan pada hampir seluruh aplikasi jaringan komputer.

Pengertian jaringan komputer

Jaringan komputer merupakan sistem yang terdiri dari gabungan beberapa perangkat komputer yang didesain untuk dapat berbagi sumber daya, berkomunikasi dan akses informasi dari berbagai tempat.antar komputer yang satu dengan komputer yang lain.

Manfaat jaringan komputer

1. Berbagi sumber daya / pertukaran data
2. Mempermudah berkomunikasi / bertransaksi
3. Membantu akses informasi
4. Mampu memberikan akses informasi dengan cepat dan up-to-date 

Jenis-jenis jaringan komputer berdasarkan jangkauan


1. LAN ( Local Area Network)
Local Area Network sering kita jumpai diperkantoran, kampus, maupun warnet. Jaringan ini dapat menghubungkan lebih dari 2 komputer di ruangan jarak dekat (terbatas) hingga beberapa KM saja. Jaringan ini biasanya terdiri dari komputer, printer, dan perangkat lainnya.

2. MAN (Metropolitan Area Network)
Sesuai dengan namanya maka jenis jaringan ini memberikan layanan hingga wilayah yang luas dan kemampuan transfer datapun berkecepatan sangat tinggi. Wilayah yang dapat menjadi cakupannya berkisar hingga 50 KM. MAN ini merupakan rangkaian LAN yang berukuran dan berjarak lebih besar.

3. WAN (Wide Area Network)
Jenis jaringan ini memberikan layanan lebih luas lagi dibanding MAN yaitu dapat menghubungkan suatu wilayah bahkan negara lain. WAN pada dasarnya merupakan kumpulan beberapa LAN yang ada di beberapa lokasi sehingga dibutuhkan sebuah device untuk menghubungkannya dan device itu kita sebut router.

Jenis-jenis jaringan komputer berdasarkan fungsinya

1. Client - Server
Merupakan jaringan komputer yang dikhususkan sebagai client dan server, layanan ini bisa diberikan oleh 1 atau lebih komputer.

2. Peer-to-Peer
Merupakan jaringan komputer yang setiap host nya dapat menjadi sebuah server atau menjadi client secara bersamaan.

Jenis-jenis jaringan komputer berdasarkan topologi

1. Topologi Bus
2. Topologi Ring
3. Topologi Tree
4. Topologi Mesh
5. Topologi Linier
untuk penjelasannya silahkan anda klik tautan macam-macam topologi jaringan 

Jenis-jenis jaringan komputer berdasarkan media transmisi

1. Jaringan berkabel ( Wired Network)
Jaringan ini mengunakan media kabel dalam menghubungkan setiap komputer dalam jaringan

2. Jaringan Nirkabel (Wireless Network)
Jaringan ini tidak menggunakan media kabel sebagai alat pengbungnya, tetapi menggunakan gelombang elektromagnetik dalam setiap kiriman sinyal informasinya.